Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
“Jadi kau tetap pada pendirianmu, Nyai Mirah?” Perempuan cantik
itu bertanya pada ibunya. Dia menghela napas, sorot matanya mencorong dan
wajahnya tampak memerah.
“Iya, Den Ayu,
saya mohon maaf.”
“Nyai Mirah, kau sudah menyia-nyiakan
kepercayaanku. Kau tidak takut akan akibatnya?”
“Saya lebih takut
pada Gusti Allah, Den Ayu,” sahut ibu dengan kepala menunduk.
“Cih! Kau sudah
termakan kata-kata Ustaz uzur itu rupanya.
Baiklah, memangnya cuma kau dukun susuk terbaik di daerah ini. Akan kutemukan seratus dukun susuk yang jauh
lebih mumpuni daripada dukun susuk seperti kau!”
Susi masih mengingat peristiwa itu. Raut wajah marah perempuan yang dipanggil Den Ayu ketika meninggalkan rumahnya pun masih terbayang di benaknya. Gadis yang sedang mekar remaja itu menghela napas, seraya mengusap lengan kursi jati tua yang sedang didudukinya.
Kabar itu datang
bagaikan siraman hujan di gurun tandus.
Bagaikan bunga-bunga yang ditaburkan dari langit. Seorang ibu akan datang ke rumah kami!
Bertahun-tahun sudah
kami dibesarkan di rumah ini, rumah yang sederhana namun sarat dengan cinta. Tanpa seorang ibu, hanya kakak-kakak pengasuh
yang penuh senyum. Sekarang, seorang ibu
akan datang ke rumah kami. Betapa
bahagianya.
Cerpen ini dimuat dalam buku:
“Ayu, puisi itu harus sudah dikumpulkan tiga hari lagi. Gimana,
kamu siap? Sudah terkumpul berapa?” berondong Bu Sari, guru
pembimbing ekskul sastra dan jurnalistik di sekolahku.
“Emm...su...sudah ada empat, Bu,” jawabku sambil
menunduk. Aku meremas-remas tangan dengan gelisah.
Semoga Bu Sari tidak membaca kegelisahanku.
![]() |
foto : koleksi pribadi |
“Ayu, puisi itu harus sudah dikumpulkan tiga hari lagi. Gimana,
kamu siap? Sudah terkumpul berapa?” berondong Bu Sari, guru
pembimbing ekskul sastra dan jurnalistik di sekolahku.
“Emm...su...sudah ada empat, Bu,” jawabku sambil
menunduk. Aku meremas-remas tangan dengan gelisah.
Semoga Bu Sari tidak membaca kegelisahanku.
“Mak…kampanye iku opo artine, Mak?”
“Mbuh…”
“Duit miliar iku wakeh tah, Mak?”
Kembali celoteh bening itu terdengar lagi, namun suara parau yang
sarat kantuk milik seorang perempuan tua memangkas tanya yang terlontar dari
mulut kecil bocah lelaki.
“Mbuh... wis ,
turu… bengi-bengi omong-omongane ngaco bae sira”
Si bocah lelaki beringsut sedikit, mencari ruang untuk sekedar bisa
membalikkan badan. Di sebelahnya tubuh
kering perempuan yang sudah melahirkannya tampak mulai mengendur. Dada tipisnya turun naik seiring tarikan napas-napas
yang tersisa dari kerja kerasnya seharian.
***
![]() |
foto: storimages.wordpress.com |
Kupandangi
lautan berwarna cokelat itu. Cairannya amat kental. Kalau saja rasanya manis,
tentu anakku akan sangat senang berkubang di sana. Tapi yang ini, kerbau pun akan tenggelam jika
nekat berkubang di situ.
Rumah-rumah
hanya tinggal separuh badan saja yang terlihat.
Tak ada satu pun yang berpenghuni.
Jika malam datang, kampung menjadi sepi seperti kuburan. Tak ada lagi
tawa ceria anakku dan kawan-kawannya bermain di bawah purnama, tak ada lagi ramai
celoteh perempuan-perempuan yang duduk mencangkung di beranda, tak ada lagi lelaki-lelaki
yang bergerombol-gerombol membincangkan berita, atau berdua-dua menghadapi
sekotak papan catur mencoba melepaskan penat dunia.
ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.
POPULAR POSTS
Categories
- My Work 11
- beauty 12
- books 14
- health 11
- review produk 16
Formulir Kontak
