“Jadi kau tetap pada pendirianmu, Nyai Mirah?” Perempuan cantik
itu bertanya pada ibunya. Dia menghela napas, sorot matanya mencorong dan
wajahnya tampak memerah.
“Iya, Den Ayu,
saya mohon maaf.”
“Nyai Mirah, kau sudah menyia-nyiakan
kepercayaanku. Kau tidak takut akan akibatnya?”
“Saya lebih takut
pada Gusti Allah, Den Ayu,” sahut ibu dengan kepala menunduk.
“Cih! Kau sudah
termakan kata-kata Ustaz uzur itu rupanya.
Baiklah, memangnya cuma kau dukun susuk terbaik di daerah ini. Akan kutemukan seratus dukun susuk yang jauh
lebih mumpuni daripada dukun susuk seperti kau!”
Susi masih mengingat peristiwa itu. Raut wajah marah perempuan yang dipanggil Den Ayu ketika meninggalkan rumahnya pun masih terbayang di benaknya. Gadis yang sedang mekar remaja itu menghela napas, seraya mengusap lengan kursi jati tua yang sedang didudukinya.