MASA KECIL
Mami itu panggilan ala-ala western ya, tapi karena orang sunda jadi ditambahin "h". Saya memanggil ibu saya Mamih dan ayah saya Papih 😁. Tetangga-tetangga memanggilnya Bu Tobing, saudara-saudara yang sepuh memanggilnya Teh Eni atau Ceu Eeng, ponakan-ponakan memanggilnya Uwak, Wa Amih atau Mamih, cucu-cucu memanggilnya Enin.
Benar apa yang dikatakan Mbak Vera Itabiliana, Psikolog Keluarga di sebuah acara parenting yang saya ikuti, bahwa bonding moment antara ibu dan anak yang kuat, bakal diingat terus oleh si anak sampai dia dewasa, karena itu terjadi pada saya. Walau mungkin hanya sebagian saja yang saya ingat, tapi saya bersyukur ingatan saya tentang kebersamaan bersama Mamih hanya yang asyik-asyik aja *bwehehe*.
Kalimat di atas saya kutip dari kalimat yang diucapkan salah seorang guru menulis saya. Bagi saya, kegelisahan yang tidak dituangkan, mengganggu ketentraman jiwa. Batin bergejolak. Segala pertanyaan, pernyataan, kesal, marah, harus bagaimana, berdesakan di kepala.
Seseorang nulis komentar di postingan saya di Facebook: kan orang Indonesia gampang komen. Masa iya sih? udah ada hasil surveynya gitu? hehe.
Ngukurnya gampang aja, coba deh kalau ada issue (nasional) pasti medsos langsung riuh-rendah. Seru. Beberapa issue berhasil saya lewatkan dengan damai. Artinya saya nggak terpancing nulis status berkaitan dengan issue-issue itu. Sebut aja issue yang paling santer soal pemberian ASI dan polemik ibu bekerja. Wotefer lah ya, masa-masa itu udah saya lewati dengan damai dan saya ini bagai ancestor di dunia per-asian (udah pengalaman menyusui empat kepala mau apa lagi), udah khatam juga dunia kerja-kerjaan. Mau sharing atau mau nambahin panas suasana sih bisa-bisa aja, tapi ah malas *heuheu*
Hormati gurumu, sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman
Dua bait lagu itu terngiang di telinga, di tengah panasnya kota Serang, saat saya sedang duduk manis di samping sopir angkot, yang sedang nunggu penumpang di depan sebuah sekolah.
Kok bisa tiba-tiba lagu itu muncul di alam pikiran saya? Ya, gara-gara satu lagi sketsa kehidupan yang saya saksikan. Jadi, ceritanya begini.
"don't lose to jerks like that
even if we get swayed by money
let's not lose
the kids need a mom in this crazy world
live ... be healthy ... don't give up"
#Nurse Jang #BeautifulMind
Seringkali, ketika menonton drama/film saya menemukan scene yang mengesankan. Meskipun bukan scene yang dimainkan pemain-pemain utamanya, tetapi ketika menonton scene itu, saya merasa mendapat "sesuatu". Maka saya akan bilang kalau drama/film itu bagus.
Kamiii... Pramuka Indonesia...
Manusia Pancasila...
Hahay... ada yang masih ingat atau malah nggak tahu lagu itu? ^:^ Lagu itu kayaknya cocok deh dijadikan theme song postingan ini. Soalnya gara-gara ikut kegiatan pramuka, saya bertemu dengan para sahabat yang akan saya ceritakan di sini.
Persahabatan kami dimulai sejak tahun 1988. Saat itu kami masih duduk di bangku sekolah menengah pertama tahun kedua. Pada tahun itu, rata-rata regu pramuka putri di angkatan kami mulai ompong, karena sebagian anggotanya berhenti mengikuti kegiatan pramuka.
Yang tersisa tinggal 10 orang termasuk saya, akhirnya kami pun berkoalisi. Pada bulan Juli tahun 1988, bendera Regu Padi (karena nama bunga untuk nama regu sudah terlalu mainstream) mulai berkibar. Dan selama dua tahun itulah kami banyak menghabiskan waktu bersama. Suka-duka dibagi rata. Mulai dari berbagi surat cinta *hahaha* sampai bareng-bareng "disiksa" latihan oleh Kakak Senior, menjelang lomba-lomba kepramukaan tiba.