Sebetulnya, waktu saya mau mulai ngeblog lagi, ada rasa ragu dan kurang percaya diri. Masalahnya, walau merasa kemampuan menulis belum berkurang, tapi di dasar sanubari ada perasaan tertinggal dari teman-teman penulis seangkatan, yang lebih dulu terjun ke dunia blogging. Melihat pencapaian dan prestasi mereka, sungguh diam-diam membuat saya minder. Tetapi rasa penasaran mengalahkan semua perasaan itu, akhirnya setapak demi setapak saya jalani dunia blogging ini. Dan ternyata semakin jauh malah semakin menarik dan menantang. Apalagi ketika blog mulai mendatangkan rejeki, jujur aja pencapaian yang diikuti materi bikin saya makin betah.
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Suami saya, a.k.a PKK, a.k.a Pak Kunkun itu enam bersaudara. Masing-masing sudah beranak-pinak dengan jumlah nyaris seragam: 3 - 4 anak, kecuali si pangais bungsu, anaknya baru dua (baru ya... hehehe...). Yes, kami memang keluarga besar.
Jarang sekali kami bisa berkumpul dengan formasi lengkap, selain Idul Fitri. Disamping tinggal kami yang berjauhan, juga kesibukan masing-masing keluarga yang cukup sulit diseragamkan. Saat kami berkumpul Lebaran kemarin, tercetus rencana menghabiskan liburan akhir tahun bersama-sama. Tujuan kami adalah daerah puncak. Adik ipar merekomendasikan satu tempat yang (katanya) cocok untuk liburan keluarga.
Judul Buku : 19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres
Penulis : Mayoko Aiko, Ceko Spy, dkk
Penerbit : Universal Nikko
Cetakan : I, Agustus 2015
Jumlah Halaman : 285 halaman
ISBN : 978-602-9458-21-3
Bukan takut barangkali, tapi nggak percaya diri. Iya, nggak pe-de-nya itu karena belum apa-apa sudah takut duluan. Takut mencoba, takut salah, takut nggak bagus, takut kehabisan ide, dan sebagainya.
Baiklah, ini postingan pertama saya sejak libur Lebaran yang (ber) kepanjangan. Lansung... kelas berat junior, hehehe... Review dan GA novel baru karya Mbak Acariba aka Rike Swasono. Monggo disimak...
![]() |
| foto : jepretan pribadi |
Judul Buku : Precious
Lady
Penulis : Acariba
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Cetakan : I / 2015
ISBN : 9786020264004
Jumlah halaman : vi + 309 halaman
Sinopsis:
Gara-gara seharian nonton channel Food Network, hasrat
memasak jadi tergugah. Apalagi pas episode “Pioneer Woman”, (terlepas dari
dapurnya yang keren itu... ah sudahlah) asyik banget gaya si ibu koboi
itu kalau masak, kok kayaknya nggak ribet dan enjoy gitu.
Bagi mayoritas warga Bintaro nama LOT 9 sudah bukan hal baru lagi. Sebuah restoran berlokasi strategis dengan ambience yang menyenangkan. Bahkan seorang teman yang tinggal di daerah
Kebayoran Baru, jika kebetulan ada keperluan ke Bintaro pasti “ngabsen” dulu di
situ. Tak jarang juga menyengaja janjian di situ untuk sekadar hangout bersama sahabat.
Siapa yang tidak tergiur oleh kelezatan mi instan? Makanan
cepat saji yang didukung iklan dengan visualisasi menggiurkan, varian yang
semakin beragam, cara pengolahan praktis, dan harga yang murah, mi instan memang
cocok dijadikan sebagai makanan cadangan. Tak heran jika kerapkali saya
memergoki ibu-ibu berbelanja mi instan dalam jumlah banyak di pasar swalayan.
Wah!
Dalam
profil-nya, Asma Nadia disebut sebagai penulis best seller paling produktif di Indonesia. Terbukti, dalam waktu 10 tahun ia telah
menulis lebih dari 50 buku. Di awal
eksistensinya di dunia kepenulisan, Asma dikenal sebagai penulis fiksi, baik
itu berupa cerita pendek maupun
novel. Cerita-cerita pendeknya
dibukukan menjadi kumpulan cerpen sendiri, dan juga antologi bersama beberapa
penulis beken lainnya.
:: ISTANA KEDUA ::
Entah apa yang membuat
Asma Nadia mengangkat tema poligami pada novel terbarunya ini. Mungkin saja novel ini adalah ekspresi
kegelisahan hatinya dengan santernya pemberitaan tentang poligami yang semakin marak dan
terang-terangan selama setahun kebelakang.
Uniknya melalui novel
ini Asma Nadia mencoba bersikap adil. Lewat
jendela Istana Kedua ia “memandang” poligami dari tiga sisi tokoh utamanya sekaligus. Arini, isteri pertama yang menjadi “korban”, Pras
si suami, dan Mei Rose si pihak ketiga. Penggambaran karakter ketiga tokoh
sentral ini seimbang, sehingga tidak ada kesan berpihak. Asma seakan mempersilakan pembaca untuk
menilai dan memutuskan kepada siapa akan berpihak.
Ceritanya kemaren pulang kantor bareng ponakan. Lagi asyik-asyiknya rumpi, tiba-tiba perut nimbrung bunyi, keruyukan tanda minta suplay. Niatnya sih mampir dulu beli sate (entah tiba-tiba pengen sate), tapi liat kondisi jalan yang padat merayap jadi males, malah pengen cepet nyampe rumah.
"Ya, udah pake Go-Jek aja." ponakan nyeletuk.
Kok Go-Jek sih. Setahu saya Go-Jek kan layanan transportasi pesanan -- semacam taksi tapi alatnya motor -- Selidik punya selidik, sekarang Go-Jek punya layanan baru yaitu GO-FOOD... waaah... tampak asyik dan menentramkan.
Sampe di rumah, firasat akan menu yang nggak asyik terbukti. Makin ngebet deh nyobain GO-FOOD. Baiklah... mari kita sms. What??!! hari gini masih maen sms? ngabisin pulsa aja. Ya udah telepon deh... jyaaah... apalagi nelpon, gimana kalau pulsa tinggal 100 perak aja. Terus?
Udah lama juga sih baca ulasannya di Kompas Minggu, dan langsung tertarik buat nonton. Pas baca ulasan itu, yang ada di pikiran, film ini bergenre musikal, tema jazz pula yang diusung, tapi mengapa tersirat dark dan ada kekerasan di dalamnya? Bikin penasaran aja.
Sayangnya karena kesibukan ini itu, jadwal putar film ini di bioskop sempat terlewat. But, thanks to keponakan dengan jutaan (berlebihan) koleksi film-nya di laptop, sekali oprek dapet deh film ini.
Nah, film yang pemutaran perdananya dilakukan di Sundance Film Festival 2014 dan sukses meraih box office ini sebenarnya ide dasarnya sungguh klise, biasalah... proses memperjuangkan impian. From zero to hero. Tapi, di tangan dingin Damien Chazelle (penulis skenario sekaligus sutradara) film ini jauh dari biasa. Tensinya bikin degdegan... asli!
Bibir saya termasuk bibir yang susah ditempeli bibir... eh... lipstik. Dulu, semasa remaja ngarep banget punya bibir yang merah alami, merona segar, dengan sedikit kilatan lipgloss, seperti milik cewek-cewek populer di sekolah. Namun apa daya saya dikaruniai bibir dengan warna gelap, walau dari size dan bentuk masih bagus lah (menurut saya dan suami) hehe...
![]() |
| foto: www.foxinflats.com.au |
Bagi pemilik bibir berwarna gelap seperti saya, memilih lipstik itu mungkin jadi perjuangan tersendiri. Saya terpaksa membunuh keinginan memakai lipstik dengan warna-warna pastel. Lipstik bermoisture pun menjadi pantangan, karena tidak bisa menempel sempurna di bibir antik saya. Lupakan juga lipshine dengan warna-warna yang memikat hati. Karena kalau saya memakai lipstik model begini, alih-alih tampak menawan, bibir saya jadi kinclong berlebihan laksana habis makan gorengan seplastik gede. Big No... akhirnya saya putus hubungan dengan lipstik cair. Satu-satunya jenis lipstik yang bisa saya pakai ya jenis colorstay atau yang bertekstur creamy.
ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.
POPULAR POSTS
Categories
- My Work 11
- beauty 12
- books 14
- health 11
- review produk 16
Formulir Kontak














