 |
picture by rastrabaya.xyz |
Kalau saya ditanya, "Tahu nggak perusahaan pengembang atau pengusaha properti di Indonesia?" saya bakal menjawab, "Tahu dong, A-teeet Po-teeet dan Group Ci-teeet, kan?" *sensor hehe*. Iya, karena saya cuma tahu yang dua itu saja.
Beruntung saya diundang ke acara yang bertema "Indonesia Is Me". Sejak itu, wawasan saya pada perusahaan pengembang pun bertambah. Saya jadi tahu bahwa ada satu lagi perusahaan pengembang yang keren bernama Synthesis Development.
Sudah nonton film "Chef" belum? Untuk yang sudah, apa yang paling mengesankan dari film tersebut? Kalau saya sih jelas-jelas truck-nya dan konsep bisnisnya. Keren, dan langsung berkhayal punya bisnis serupa.
HORE! teriak sambil loncat itu asli saya lakukan pas dapat email dari Teh Ani Berta. Kepilih... kepilih... yeyeye...
 |
picture of pinterest.com
designed by @inongina |
Oke, reportase ini memang very late post banget ya *udah
very... pake banget lagi* tapi sayang aja kalau nggak di-share. Ini acara menarik dan mengandung pesan
penting. Siapa tahu kelak, kalau ada acara-acara sejenis, atau Greenpeace
Indonesia mengadakan acara semacam ini, jadi penasaran pengen hadir juga.
Baiklah… mari kita lanjutkan cerita asyik workshop 10to10
Female of the Future dari ID GeekGirls dan Microsoft.
Oya, lupa cerita… sepanjang acara ini panitia juga
menyelenggarakan LiveTweet yang akan dipilih tweet terbaik di akhir acara. Juga
ada pemilihan Best Picture, selfie boleh atau rame-rame juga bisa.
Asyiknya lagi, acara ini dikawal oleh @JepretStory. Mereka bakal langsung
ngeprint foto kita dari twitter atau instagram lho… asal jangan lupa tagarnya
#10to10. Foto-foto itu langsung dikasih frame cantik. Lumayan lah buat
kenang-kenangan.
Oke… *inhale-exhale* ini masih dalam rangka takjub, sesak
napas, dan belum berhenti senyum. Sehingga memutuskan cerita ini harus tayang duluan, mengalahkan bahan-bahan cerita yang lebih dulu muncul.
Tapi
disclaimer dulu ya, tulisan ini hanya berupa reportase acara, bukan tutorial
how to develop application berbasis Windows 10-nya, kalau itu sih next
aja kali ya :D
 |
dok. pribadi
Yang pake shirt kuning dan ceria itu namanya Koko Giovani *sekilas info* |
Oke, sesuai janji sekarang saya mau bahas sesi kedua di
Local Heroes Blogging Seminar. Narsumnya adalah Mas Yuniman Farid, jurnalis
Deutsche Welle (DW), redaksi Indonesia.
 |
dok. pribadi |
Wah, ada ya Bapak Blogger Indonesia. Saya tahunya Bapak
Pramuka sama Bapak Pembangunan *Terordebaru sekali* hehe…
Nah, pada tanggal 19 September 2014 kemarin, saya
berkesempatan ketemu sama Bapak Enda, yang ditasbihkan sebagai Bapak Blogger
Indonesia. Menurut pengakuan beliau sih,
dirinya mulai dijuluki Bapak Blogger Indonesia itu, ya sejak Pesta Blogger 2008
*saya ada di mana waktu itu? Masih nge-MP sih tapi kudet urusan keriaan blogger-blogger
ini*
 |
foto : kolpri |
Rumah budaya adalah proteksi
atau karantina terhadap kebisingan politik dan ekonomi. Benteng teduh
dari segala hiruk-pikuk selebrasi kehidupan artifisial yang diobral media
massa. (Radhar Panca Dahana, Kompas Minggu, 9 Agustus 2015)
Dalam artikel itu disebutkan juga beberapa rumah budaya yang
didirikan oleh seniman-seniman ternama seperti Celah-Celah Langit milik Kang
Iman Soleh di Bandung, Rumah Puisi Taufik Ismail di Aie Angek Sumatera Barat, Padepokan
Lemah Putih Mbah Prapto di Solo, Kandang Jurang Doank di Ciputat, Rumah Seni
Asnur di Depok.
Walau Rumah Dunia tidak
disebutkan, saya merasa Rumah Dunia adalah rumah budaya yang saya kenal di wilayah Banten. Pusat edukasi berkesenian dan
penjaga kebudayaan di tengah kepedulian masyarakat (Serang dan sekitarnya)
terhadap budaya yang kian memudar.
100 KATA PERTAMA by
Ary Nilandari
Day #4 Session #1 à Karena nggak
bisa hadir dari hari pertama, jadi langsung aja tulis Day #4.
Nah, sesi ini
merupakan rangkaian terakhir dari event “Workshop 3 Hari Bersama Yusof Gajah”, yang diadakan dari tanggal 20 - 22 April di Selasar Soenaryo, Bandung. Niat banget ikutan sesi ini (walau nggak bikin
tugas seperti yang disyaratkan). Soalnya apa? Kangeeeen sama Mbak Ary. Kangen
dengan pribadinya, kangen juga dengan sesi sharing ala Ary Nilandari. Kenapa? karena
setiap kali mendapat transferan ilmu dari beliau, setelahnya saya merasa
berkali lipat lebih pintar *LOL* dan percaya diri (dalam menulis).
Sesi ini dibuka dengan ice breaking yang asyik banget, Mbak Ary mau membacakan cerita, dan audience dilibatkan untuk mengisi sound effect-nya.